Menu

Kisah Perjuangan Pangeran Sambernyawa Ditampilkan pada Haul Mbah Mutamakkin

  Dibaca : 249 kali
Kisah Perjuangan Pangeran Sambernyawa Ditampilkan pada Haul Mbah Mutamakkin
Marching band Bahana Swara Drum menampilkan kisah perjuangan Pangeran Sambernyawa dalam peringatan haul Mbah Mutamakkin, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. (Istimewa)

Pangeran Sambernyawa, siapa tak mengenalnya? Raden Mas Said—namanya sewaktu lahir—merupakan sosok paling fenomenal dalam kisah perjuangan melawan penjajah Belanda, sebelum meletusnya Perang Jawa atau Perang Dipanagara (1825-1830 M).

Lahir di Istana Kartasura pada 25 April 1725 M, putra KPA Mangkunagara ini melewati masa kecil penuh keprihatinan. Atas permintaan Pakubuwana I, ayahnya dibuang Belanda ke Sri Lanka, sebelum dipindahkan ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, dan menemui ajal di pembuangan.

Pada mulanya R.M. Said bersekutu dengan Pangeran Mangkubumi, Sultan Hamengkubuwana I, untuk melawan Pakubuwana III—Raja Surakarta yang bersekutu dengan Belanda. Persekutuan ini segera berakhir, menyusul disepakatinya Perjanjian Giyanti (1755 M), yang mendamaikan Mangkubumi dan Pakubuwana III; membagi bekas wilayah Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Tidak dilibatkan dalam perjanjian ini, kelak Said harus melawan tiga kekuatan sekaligus: Surakarta, Yogyakarta, dan Belanda.

Pangeran Jawa satu ini tidak kenal menyerah, karena sejak muda terbiasa menghadapi situasi sulit, dihantam pelbagai gejolak, baik konflik politik maupun ancaman kolaborator penjajah. Bergabung dengan Sunan Kuning, Raden Mas Garendi, Said menjawabnya dengan mengobarkan perlawanan terhadap Mataram dan Belanda.

Selama 16 tahun menggempur Belanda, sebanyak 250 peperangan ia kobarkan, dan bermula dari Geger Pacinan (30 Juni 1742 M), yang berakibat pada runtuhnya Istana Mataram-Kartasura.

Pertempuran besar pertama berlangsung di Desa Kasatriyan, sebelah barat daya Ponorogo, pada 1752 M. Pasukannya berhasil memukul mundur pasukan Mangkubumi alias Hamengkubuwana I.

Dalam pertempuran di Alas Sitakepyak, selatan Rembang (1756 M), 175 pasukan Sambernyawa dikepung seribu Marsose (pasukan khusus) Belanda. Kalah dalam jumlah dan persenjataan, tapi pasukan Said berhasil membinasakah 600 pasukan Belanda, bahkan memenggal kepala pimpinannya, Kapten Van der Pol.

Sejarah mencatat, hanya tiga anggota pasukan Said yang gugur, dan 29 orang lainnya menderita luka-luka.

Guna membina militansi dan kesatuan pasukannya, Said menciptakan motto Tiji Tibeh, akronim dari mati siji, mati kabeh; mukti siji, mukti kabeh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Sebuah semangat perlawanan yang lahir dari rahim keberanian dan ketulusan hatinya untuk mengukuhkan solidaritas dalam menjaga martabat dan keluhuran bangsanya dari cengkeraman penjajah.

Tiji Tibeh merupakan konsep kebersamaan antara pemimpin dengan rakyatnya, sebuah konsep yang layak ditiru oleh para pemimpin sekarang.

Setelah balatentara Belanda membakar dan merampas harta penduduk Desa Nglaroh, Wonogiri, Said murka dan segera melakukan serangan dadakan ke Benteng Vredeburg (1757 M), Yogyakarta. Pasukan Belanda kocar-kacir, melarikan diri ke dalam Kraton Yogyakarta.

Belanda yang kewalahan mendesak Pakubuwana III untuk mengajaknya berunding. Melalui Perjanjian Salatiga, pada 17 Maret 1757 M, ia diangkat sebagai adipati miji (mandiri), dengan kedudukan sejajar Susuhunan dan Sultan; bergelar K.P.A. Arya Mangkunegara.

Wilayah kedudukannya meliputi kawasan Keduwang, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang bagian utara, dan Kedu. Said mendirikan istana di tepian Kali Pepe, pada 1756, tempat yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran.

Memerintah selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795, ia dimakamkan di Astana Mangadeg Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam Surat Keputusan Presiden RI No. 048/ TK/ Tahun 1988, pada 17 Agustus 1988, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Di bawah naungan MA Salafiyah Kajen, kali ini Bahana Swara Drum n’ Bugle Corps menampilkan dan menyajikan kisah perjuangan Pangeran Sambernyawa dalam aransemen marching band. Perjuangan Pangeran Sambernyawa itu ditampilkan dalam perhelatan akbar haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Kajen, Margoyoso.

Pangeran Sambernyawa sendiri terhitung masih kerabat dengan Mbah Syekh Ahmad Mutamakkin, karena beliau adalah menantu dari Mangkunegara. Sementara Pangeran Sambernyawa adalah putra dari Mangkunegara.

Perjuangan, kepahlawanan, dan niat sucinya membela harga diri bangsa dan negara—melawan kolonialisme Belanda dan para kolaboratornya—bukan hanya penting untuk terus dikenang dan digelorakan kepada kyalayak ramai, melainkan dijadikan teladan bagi segenap anak bangsa, terutama kalangan generasi muda zaman sekarang.

Bahana Swara mengajak Anda sekalian generasi muda, termasuk para zairin-zairat, untuk menyegarkan kembali ingatan dan kesadaran sejarah kita, dengan mengenang dan merenungkan kembali kegigihan dan kejuangan Pangeran Sambernyawa.

Kesadaran sejarah sudah selayaknya kita jadikan kacabenggala, cermin bagi kita semua, untuk bersama-sama memantapkan langkah dalam usaha-usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, turut mewujudkan ketertiban dunia, yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. (*)

KOMENTAR

3 Komentar

  1. henrdra
  2. Wiyo
  3. Wr wiyo

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional