Menu

Kisah Adipati Pragola Bantu Mataram Gempur Madiun di Serat Centhini

  Dibaca : 96 kali
Kisah Adipati Pragola Bantu Mataram Gempur Madiun di Serat Centhini
Ilustrasi

Direktoripati.com – Tak lama setelah Raden Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati ing Ngalaga, pendiri Kasultanan Mataram berdamai dengan penguasa Surabhaya Pangeran Panji Jayalengkara, kini Madiun mulai menunjukkan gelagat untuk melakukan pembelotan.

Madiun yang semula bergabung dalam wilayah Mataram Agung, mulai melakukan perlawanan. Dan penguasa Madiun, Pangeran Timur putra bungsu Sultan Trenggana, raja ketiga Kasultanan Demak Bintara, mulai angkat senjata.

Sikap penguasa Madiun itu ternyata mendapat dukungan dari Pangeran Panji Jayalengkara yang semula berdamai dengan Mataram atas perintah Susuhunan Adi Giri Parapen dari Giri Kedhaton yang bertindak sebagai mediator.

Madiun mendapatkan sokongan 70 ribu bala tentara dari pasukan brang wetan, yakni Pangeran Panji Jayalengkara sang penguasa Surabhaya. Mereka bersiap-siap menggempur Mataram!

Sementara bala tentara Mataram saat itu hanya berjumlah 8.000 saja. Kekuatan yang tidak imbang sama sekali. Namun, Ki Juru Martani yang dikenal sebagai Adipati Mandaraka memiliki siasat tersendiri.

Sebelum perang head to head dimulai, Mataram mengirimkan seorang wanita cantik bernama Nyai Adisara. Dia ditandu oleh 40 prajurit Jayantaka memberikan nawala (surat) yang berisi penyerahan diri Panembahan Senopati dan takluk kepada penguasa Madiun.

Sontak, Madiun bersuka cita sehingga banyak pasukan brang wetan yang ditarik mundur meninggalkan barisan. Di saat pasukan Madiun yang didukung pasukan brang wetan seperti Surabhaya dan Madura lengah dan kehilangan kewaspadaan, Mataram mulai menggerakkan pasukannya!

Pasukan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sayap kanan, tengah dan kiri. Sayap kanan dipimpin Pangeran Singasari dengan bala tentara pesisir utara, yakni Demak.

Sayap tengah dipimpin penguasa Pathi Pesantenan Adipati Pragola, putra Ki Ageng Penjawi dengan kekuatan balatentara dari Pathi dan Pajang. Sedangkan sayap kiri dipimpin Pangeran Mangkubumi dari Mataram sendiri.

Dengan kondisi yang lengah, Madiun digempur habis-habisan dari berbagai penjuru dan akhirnya berhasil dijebol. Pangeran Timur yang sudah sepuh dilarikan pasukan khusus Surabhaya dan Madura menuju Wirashaba.

Naas, putri penembahan Madiun, Dyah Retna Dumilah tertinggal di kedhaton. Namun, putri penguasa Madiun ini ternyata mahir bermain keris. Melihat hal itu, Panembahan Senopati turun tangan melawan Dyah Retna Dumilah.

Tanpa diserang balik, Panembahan Senopati lantas meringkus putri penguasa Madiun itu dengan mudah. Bukannya dihukum, Dyah Retna Dumilah justru diperistri Panembahan Senapati.

Murka Sang Penguasa Pathi
Melihat kenyataan itu, Adipati Pragola murka! Penguasa Pathi Pesantenan, putra Ki Ageng Penjawi itu marah besar karena Panembahan Senopati menikahi putri Madiun dalam keadaan perang.

Adipati Pragola sebetulnya adik ipar dari Panembahan Senopati, Sultan Mataram yang agung itu. Kakak Adipati Pragola adalah Waskita Jawi, garwa padmi (permaisuri) Panembahan Senopati.

Adipati Pragola lantas menarik mundur pasukan Pathi dari barisan Mataram tanpa pamit. Sejak saat itu, hubungan Pathi dan Mataram menjadi renggang, bahkan terlibat pertikaian.

Puncaknya pada Syaka Warsa 1522 atau 1600 Masehi, penguasa Pathi Adipati Pragola menggempur Mataram, tetapi menuai kekalahan. Kisah ini ditulis direktoripati.com dari Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal dengan Serat Centhini. (*)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional