Menu

Ini Nama-nama Penguasa Pati Zaman Majapahit, Demak dan Pajang

  Dibaca : 342 kali
Ini Nama-nama Penguasa Pati Zaman Majapahit, Demak dan Pajang
Daftar Penguasa Adipati Pati Zaman Kerajaan Majapahit Demak Pajang


Direktoripati.com – Daftar nama penguasa Pati sejak zaman Majapahit, Demak dan Pajang ternyata tidak banyak yang tahu. Sebab, sejarah Pati selama ini hanya menginduk pada Babad Pati dan Babad Tanah Jawi.

Padahal, ada banyak referensi, literatur dan teks sejarah alternatif yang justru bisa mengungkap lebih dalam dan akurat. Disusun Erick Dhanar Nugroho dari berbagai sumber, berikut nama-nama adipati atau penguasa Pati dari era akhir-akhir Kerajaan Majapahit, Demak, hingga Pajang.

Akhir Majapahit dan awal Demak
Puspo Kusumo
Gelarnya bukan adipati, karena pada masa ini wilayah Pati masih berupa kabuyutan, sehingga pemimpinnya disebut dengan buyut.

Puspo Kusumo gugur di medan perang saat penyerangan Portugis ke Malaka. Dia dimakamkan di Pulau Hantu.

Saat itu, Kabuyutan Pati adalah wilayah milik Majapahit, sedangkan Puspo Kusumo adalah pegawai Kerajaan Majapahit.

Loyalitas Puspo Kusumo kepada Demak tidak terlepas dari fakta bahwa berdirinya Demak atas izin dan bantuan dari Majapahit karena Jin Boen atau Raden Patah adalah putera Raja Majapahit.

Adapun perang Majapahit vs Demak bukan perangnya Raden Patah vs ayahnya (Majapahit), tetapi peperangan melawan pemberontak yang telah mengkudeta ayahnya.

Era Demak Bintoro
1. Jati Kusumo (Kayu Bralit), anak Puspo Kusumo.

De Graaf menyebut angka tahun 1518 sebagai tahun jabatan Jati Kusumo. Jati Kusumo menikah dengan Roro Pujiwat anak Sunan Ngerang I.

Peralihan kekuasaan dari Puspo Kusumo kepada Jati Kusumo memang bersifat pewarisan. Yang menarik di sini, bahwa Puspo Kusumo menjabat sebagai Buyut atas titah Majapahit, sedangkan Jati Kusumo menjadi Adipati atas titah Demak.

Perubahan status dari Kabuyutan menjadi Kadipaten ini juga merupakan penggabungan dua kabuyutan Pati Utara dengan Pati Selatan.

Jati Kusumo (pewaris Kabuyutan di Pati utara) menikahi Roro Pujiwat anak Sunan Ngerang I (Buyut di Pati bagian selatan). Penyerahan titah ini dilakukan dengan mengirimkan Syeh Abdul Jalil dan Syarifuddin (Pangeran Atas Angin).

2. Dharmo Kusumo (Kakak dari Jati Kusumo, makam Dharmo Kusumo berada di kompleks makam Demak).

3. Singoyudho (Paman Roro Pujiwat dari garis ibu), disebut juga dengan nama Ki Bicak “leluhur” penduduk Desa Bicak (sekarang masuk wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah)

4. Dharmo Kusumo (periode II).

5. Wawongko/Kanduruhan.

6. Abdullah Nurul Yaqin (Sunan Ngerang II/putra Sunan Ngerang I).

7. Ali Nurul Yaqin (Sunan Ngerang III/putera Sunan Ngerang II), makam beliau berada di Desa Matraman, sebelah barat Desa Gambiran, Kecamatan Pati Kota, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Era Runtuhnya Demak
8. Ki Ageng Penjawi (putera dari Sunan Ngerang III). Makam beliau berada di Banjarnegara, sumber lain menyebutkan makamnya berada di Pati. Beliau berada di Banjarnegara pada awalnya untuk menenangkan diri serta menunjukkan netralitas saat anak dan menantunya terlibat perang saudara (Babad Kabanaran).

Era Kadipaten Pati berdiri, merdeka dan bebas
9. Sidiq Nurul Yaqin (Wasis/Joyo Kusumo, putera dari Penjawi, adek Waskito Jawi), memakai gelar Kusumo sebagai penghormatan pada trah Kusumo karena selain Puspo Kusumo besanan dengan Sunan Ngerang I, ibu dari Raden Sidiq/Wasis (istri Penjawi) adalah cucu dari Jati Kusumo.

Wilayah Pati pada periode ini membentang dari Semarang sampai Madiun dan Surabaya (Pantura). Wilayah Jawa bagian selatan dikuasai oleh Mataram (Suto Wijoyo, suami Waskito Jawi atau kakak ipar Adipati Pati Wasis Kusumo / Joyokusumo).

Redaksi direktoripati.com mencatat, era Pati berdiri sendiri sebagai kadipaten terjadi pada zaman Kerajaan Pajang eksis dengan penguasa Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.

Catatan khusus
Sunan Ngerang I (Muhammad Nurul Yaqin) dalam versi cerita tutur adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim Al-Maghribi (sampai sekarang nama beliau populer di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah).

Versi itu diperkuat oleh Babad Kajoran. Pustaka Darah Agung menyebut jika Sunan Ngerang I adalah putera dari Hadipolo yang disebut sebagai menantu Maulana Malik Ibrahim.

Sunan Ngerang I juga merupakan Buyut (pemimpin kabuyutan) di wilayah Pati selatan saat Pati masih menjadi wilayah Majapahit yang kemudian diserahkan pada Demak.

Beliau besanan dengan Puspo Kusumo karena Roro Pujiwat menikah dengan Jati Kusumo.

Syarifuddin (Pangeran Atas Angin) adalah suami dari cucu angkat Syekh Makdum Pati (makam di Desa Parenggan, Kecamatan Pati Kota).

Syarifuddin juga merupakan adik dari Nyai Widuni (ibu dari Jati Kusumo), makam Nyai Widuni berada di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. (*)

KOMENTAR

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional