Menu

Berkunjung di Banyutowo, Kampung Soimah Pancawati

  Dibaca : 38 kali
Berkunjung di Banyutowo, Kampung Soimah Pancawati
Dio Hermansyah, kuasa hukum terdakwa mengancam akan melaporkan dokter yang melakukan visum tanpa bukti otentik ke Polda Jawa Tengah. (Istimewa)

Berkunjung di Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia memiliki keunikan karakter dan budaya tersendiri. Begitu kesan reporter wisata Direktoripati.com saat menggelar serangkaian jalan-jalan bertema “Ekspedisi Banyutowo” di kampung Soimah Pancawati, artis ibukota berjuluk “Pesinden Republik Indonesia” yang semakin populer dengan acara Show Imah dan belakangan diketahui sebagai guru aksi panggung (stage act coach) di kontes dangdut academy “D’Academy 2” Indosiar.

Kampung Banyutowo bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesianya Kabupaten Pati yang mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang serba plural dan majemuk. Di sini, banyak ditemukan masjid dan gereja yang hidup berdampingan dengan rukun. Dalam satu kampung, gereja injili di tanah Jawa (GITJ) banyak ditemukan di Dukuhseti.

Berkunjung di Banyutowo, Kampung Soimah Pancawati

Penduduknya sebagian besar memiliki mata pencarian di dua sektor, yaitu perikanan yang memanfaatkan sumber daya laut dan pertanian yang menggunakan sawah sebagai penghasilan utama penduduk.

Hal ini juga menjadi bagian dari refleksi dan cermin identitas Kabupaten Pati dengan slogan “bumi mina tani” yang artinya tanahnya penduduk yang bekerja di laut (mina) dan sawah (tani).

Beberapa meter dari rumah Soimah di kampung, terdapat pantai Banyutowo yang menjadi tempat bagi nelayan untuk menyandarkan kapal dan perahu mereka. Di sini, sempat akan dibangun pelabuhan sebagaimana di Juwana bernama Pelabuhan Banyutowo. Namun, sampai sekarang belum terealisasi, meski rencana dan pembangunan di bagian awal sempat dilakukan.

Selain itu, pantai Banyutowo dimanfaatkan warga sekitar dan pengunjung menjadi tempat wisata alam yang eksotis. Terutama di sore hari, banyak kendaraan diparkir di sepanjang pantai, duduk dan ngobrol ria sembari menikmati indahnya pemandangan pantai. Info selengkapnya, baca: Menjelajahi Obyek Wisata Pantai Banyutowo di Dukuhseti Pati

Tak jauh dari pantai, terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) di mana pada siang hari dijadikan ajang untuk jual beli ikan. Menurut Ngalimun, penduduk sekitar yang pernah membeli ikan di pelelangan ikan Banyutowo mengatakan, banyak ikan yang dijual murah di sana jika dibandingkan membeli ikan di pasar tengah kota Pati, seperti Puri. Hal ini wajar mengingat banyak ikan segar yang baru saja diambil nelayan dari laut.

Berkunjung di Banyutowo, Kampung Soimah Pancawati

Kabar dari masyarakat sekitar, dulu Soimah Pancawati sering membantu ibunya berjualan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) Banyutowo.

“Soimah waktu kecil sering berada di TPI, jualan ikan gereh (red: ikan kering),” ujar Ibda, salah satu warga Dukuhseti.

Sejarah Asal mula Banyutowo
Sejarah asal mula nama desa Banyutowo diambil dari dua kata, yaitu banyu yang artinya air dan towo yang artinya tawar. Jadi, secara bahasa, Banyutowo artinya adalah air tawar sebagaimana air putih yang kita minum.

Kenapa dinamakan Banyutowo? Pasalnya, daerah ini sangat dekat dengan pantai, tetapi dulu daerah ini sumber mata airnya tidak asin sebagaimana tempat-tempat di pesisir pantai lainnya. Karena itu, kampung ini dinamakan Banyutowo.

“Nama itu sebuah doa. Saya pikir orang jaman dulu berkeinginan menjadikan daerah itu agar sumber mata airnya tawar sehingga dinamakan Banyutowo. Soalnya sampai sekarang sumber mata air di sana juga asin sebagaimana daerah-daerah di pesisir lainnya,” tutur Ngalimun, penduduk sekitar. (Penulis: Lismanto/Fotografer: Lismanto dan Ahmad Muslich)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional