Momen Saridin dan Sunan Kudus Akur Diabadikan Museum Jenang Mubarok

kisah sunan kudus dan saridin syekh jangkung

Direktoripati.com – Saridin dan Sunan Kudus diceritakan ketoprak sebagai dua tokoh legendaris yang kerap berseberangan, bahkan bermusuhan.

Saridin digambarkan sebagai sosok yang polos, tidak pintar ilmu syariat agama, tetapi punya kelebihan yang paham akan ilmu ketuhanan atau makrifat.

Pemuda lugu tapi berhati bersih inilah yang kelak mendapatkan gelar Syekh Jangkung. Dia adalah murid Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sementara Sunan Kudus adalah salah satu anggota Walisongo yang memiliki jabatan, dihormati dan disegani. Dalam kisah ketoprak, keduanya terlibat perselisihan yang berlarut-larut.

Salah satunya, peristiwa diusirnya Saridin dari panti Kudus (semacam pondok pesantren) karena ulahnya yang dianggap pamer ilmu kesaktian. Padahal, Saridin sebetulnya tidak bermaksud demikian.

Singkat cerita, Saridin pergi dari tanah Pati karena kasus pembunuhan kakak iparnya bernama Branjung. Sementara Saridin tidak merasa membunuh, karena saat itu yang dibunuh seekor harimau, bukan Branjung.

Setelah buron, Saridin melarikan diri dan berniat mondok di panti Kudus. Awal datang, dia sempat dibully para santri karena tidak bisa baca-tulis Al Quran.

Dia juga tidak diberikan kesempatan untuk ngangsu (menimba) air menggunakan wadah. Dia justru diberikan santri keranjang.

Saridin yang lugu terpaksa nganggu menggunakan keranjang. Ajaibnya, air itu tidak tumpah. Karena mengagetkan para santri, dia dipanggil untuk menghadap Sunan Kudus.

Saridin sempat dilulu (ungkapan sindiran dalam bahasa Jawa), "Din, apa semua air itu ada ikannya?"

"Benar Kanjeng Sunan," jawab Saridin.

Ternyata benar apa yang dikatakan pemuda polos itu. Air dalam kolah, air dalam kendi, air dalam kelapa, semuanya ada ikannya saat ditunjukkan kepada Saridin.

Saat ditanya apa arti dan makna syahadat. Saridin justru naik ke pohon kelapa yang tinggi, lantas menjatuhkan diri. Ajaib, karena dia tidak mati dan berkata kepada Sunan Kudus, "Makna syahadat itu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah."

Saridin lagi-lagi dianggap pamer kesaktian ilmu. Dia kemudian diusir untuk tidak menyentuh tanah Kudus.

Bukannya pergi, Saridin justru berpijak di atas kotoran manusia. Dia mematuhi perintah Sunan Kudus untuk tidak menginjakkan kaki di tanah Kudus.

Sunan Kudus dibuat geram berkali-kali. Ini sepenggal kisah tentang Saridin dan Sunan Kudus yang tidak pernah akur.

Baca:
Yuk Wisata Religi di Makam Syekh Jangkung Kayen, Ini Lokasinya!

Momen keakraban diabadikan Museum Jenang Mubarok
Berbeda dengan cerita yang ditulis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus dan diabadikan di Museum Jenang Mubarok.

Syekh Jangkung lah yang menjadi asal-usul kenapa Kudus menjadi sentra produksi jenang, tepatnya di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota.

Konon, seorang cucu Mbah Depok Soponyono hanyut dan tenggelam di sungai. Bocah itu akhirnya diselamatkan penduduk setempat.

Sunan Kudus dan Syekh Jangkung yang semula melakukan perjalanan menghampiri kerumunan warga itu.

Setelah diperiksa, Sunan Kudus menyimpulkan jika bocah itu sudah meninggal dunia. Namun, beda lagi yang dikatakan Syekh Jangkung.

Dia mengatakan, bocah itu masih hidup, tapi mati suri. Syaratnya, bocah itu harus disuapi menggunakan "Jenang Bubur Gamping" yang terbuat dari tepung beras, garam dan santan kelapa.

Setelah disuapi, bocah tersebut hidup kembali. Dari peristiwa itu, Sunan Kudus berucap, "Suk nek ono rejaning zaman, wong Kaliputu uripe seko Jenang."

Artinya, "Nanti kalau zaman sudah ramai, orang Kaliputu hidupnya dari jenang."

Sejak itu, Kaliputu menjadi pusat produksi jenang di Kabupaten Kudus sampai sekarang. Bahkan, warga setempat memperingatinya setiap tanggal 1 Suro (Muharram) dengan mengadakan Kirab Tebokan atau arak-arakan jenang.

Sunan Kudus Saridin Syekh Jangkung Museum Jenang Mubarok

Dari penafsiran direktoripati.com, asal-usul nama Kaliputu diambil dari nama kali (sungai) dan putu (cucu) dari sebuah peristiwa hanyutnya cucu Mbah Depok Soponyono di sungai tersebut.

Dari kisah itu, Sunan Kudus sangat akrab dengan Syekh Jangkung yang sebelumnya hanya bocah lugu bernama Saridin itu. Cerita itulah momen di mana keduanya akur. (*)

0 Response to "Momen Saridin dan Sunan Kudus Akur Diabadikan Museum Jenang Mubarok"

Post a Comment