Kupas Tuntas Ajaran & Kehidupan Sedulur Sikep Samin, Dulu dan Kini

Kupas Tuntas Ajaran Kehidupan Sedulur Sikep Samin Dulu dan Kini

SEMARANG, Direktoripati.com – Sikap dan keteguhan sedulur sikep atau yang akrab dikenal warga samin selalu mengundang tanya. Sebab, para penganut ajaran samin selalu memegang prinsip hidup dan ajaran yang diwariskan leluhurnya.

Ajaran samin yang masih eksis di wilayah Kabupaten Blora, Kudus, dan Pati tersebut tetap bisa bertahan di tengah gempuran globalisasi dengan arus informasi teknologi (IT) yang berkembang pesat. Mereka tetap bertahan dengan kepercayaannya, dan menjalani hidup dengan apa adanya, selaras dengan alam.

Eksistensi para penganut samin itulah yang diangkat dalam diskusi sarasehan budaya yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah dan Komunitas Teater Lingkar Semarang di Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (15/12).

Sarasehan budaya dihadiri sejumlah elemen masyarakat. Salah satunya, mahasiswa, jurnalis, dan tokoh agama. Kegiatan diskusi budaya itu juga menghadirkan berbagai pembicara dari kalangan akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat.

Diskusi dipandu Gunoto Sapari dengan para pembicara budayawan Prie Gs, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Agus Maladi, periset komunitas samin dari STAIN Kudus Ahmad Rosyid. Mereka mengelaborasi pandangannya masing-masing tentang apa, siapa dan filsafat keyakinan warga Samin.

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Lasio, salah satu yang dituakan warga sikep samin di Klopoduwur, Blora, menjelaskan tentang kepercayaan atau agama yang dianut warga samin.

Menurutnya, sedulur sikep samin menganggap “agama” sebagai “ageman” atau pakaian. Ageman yang diyakini mereka adalah agama Adam, berpedoman pada ajaran Bapa dan Biyung, ayah dan ibu.

Mbah Lasio juga menjelaskan kenapa selama ini para warga sedulur sikep samin selalu hidup sederhana, tidak pernah mengejar kekayaan duniawi, dan memilih menepi dari hiruk pikuk-euforia kehidupan sosial yang semakin memuja hedonisme.

“Sedulur sikep samin bukan berarti tidak mampu dalam hal keduniaan. Sebab, hal terpenting bagi kami adalah berusaha dan bertahan memegang teguh ajaran leluhur,” ujar Mbah Lasio saat berbincang dengan direktoripati.com, usai mengikuti sarasehan di TBRS Semarang.

Ajaran samin selalu mengajarkan tentang sikap kesederhanaan, selalu menghargai hak orang lain. Penganut Samin punya sikap aja drengki, srei, tukar padu, dahpen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog-colong.

Artinya, orang samin tidak boleh dengki, jangan suka bertengkar, jangan iri. Jangan suka mengambil milik orang lain, tanpa izin pemiliknya. Samin juga memiliki konsep kehidupan yang nerima, laku nistha, ora milik drajad, pangkat, lan kadonyan (menerima, rendah hati, tidak ingin derajad, pangkat, dan keduniawian).

Peneliti Samin dari STAIN Kudus, Ahmad Rosyid  menjelaskan, komunitas samin sampai saat ini di Jawa Tengah tersebar di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, serta di sejumlah pedukuhan dan desa di Kabupaten Kudus.

“Kini, warga Samin sudah banyak mengalami pergeseran budaya. Dulu, para penganut samin selalu menutup diri dengan perkembangan kemajuan teknologi. Tapi, saat ini mereka sudah mulai membuka diri. Di Kudus, misalnya. Mereka sekarang ini sudah banyak menggunakan teknologi, seperti punya kendaraan bermotor, televisi, dan gadget atau handphone,” kata Rosyid.

Selain sudah membuka diri dengan perkembangan teknologi, kata Rosyid, warga sikep samin yang tinggal di Kabupaten Kudus sudah mau mengikuti sekolah formal.

“Mereka yang terpengaruh dengan globalisasi dan teknologi biasanya dari kalangan anak muda. Sedangkan tokoh-tokoh sedulur sikep samin masih tetap bertahan dengan ajaran leluhur. Mereka sangat disegani dan dihormati,” ungkapnya.

Penelitian orang samin di Pati
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNDIP Agus Maladi mengatakan, sikap dan perilaku sedulur sikep samin adalah perwujudan kejujuran masyarakat dalam berinteraksi dan menjalin sosialisasi dengan sesama manusia.

Dia mencontohkan ketika melakukan penelitian kehidupan sedulur sikep di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Dia mengaku terkesan dengan sikap wong samin yang tidak mau mengganggu dan tidak mau berbuat tercela, seperti mencuri.

Untuk menguji kejujuran wong samin, Agus mencoba untuk menaruh dompet di rumah Mbah Tarno, seorang tokoh samin. Dia takjub ketika dompet itu tidak bergeser ke tempat manapun, meski dompet ditinggal berhari-hari.

Bahkan, uang di dalam dompet tidak berkurang satu rupiah pun. Padahal, rumah Mbah Tarno menjadi persinggahan warga sedulur sikep samin setiap harinya.

Sikap jujur itulah yang sampai saat ini bertahan dan terus dipegang teguh orang-orang Samin. Kejujuran wong samin seolah menjadi oase yang menyejukkan di tengah gersangnya nilai-nilai kejujuran masyarakat global dewasa ini.

Hal itu diamini budayawan Prie Gs. Menurutnya, konsistensi komunitas samin yang dipegang teguh dalam ageman, ajaran atau pakaian wong samin merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom).

“Ini adalah kearifan lokal, seperti komunitas Suku Badui di Jawa Barat. Sikap mereka jauh dari pengaruh media sosial, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, atau BBM.  Kondisi semacam itu yang justru menentramkan mereka dalam menjalani hidup,” kata Prie GS.

Kearifan lokal yang mengedepankan saling menghargai manusia dan bersahabat dengan alam itulah yang membuat komunitas samin selalu tentram, jauh dari konflik seperti yang banyak terjadi di berbagai tempat.

Gus Lukman memberikan definisi yang lebih filosofis dari sikap dan ajaran yang dipegang orang sikep samin. Menurutnya, perilaku sedulur sikep dari Klopoduwur Blora justru lebih dari sekadar jujur.

“Apa yang diungkapkan sedulur sikep di depan sarasehan ini merupakan bahasa qolbu, bahasa hati dan perilaku yang mencapai ma’rifattullah,” ungkap Gus Lukman.

Ungkapan dari bahasa qolbu dan perilaku yang dijalankan sedulur samin sehari-hari, menurut Gus Lukman, seperti yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw. Bahasa qolbu lebih indah dari sekadar kejujuran yang bisa menentramkan hati dan jiwa manusia. (*)

0 Response to "Kupas Tuntas Ajaran & Kehidupan Sedulur Sikep Samin, Dulu dan Kini"

Post a Comment