3 Fakta Pilkada Pati yang Selalu Menggemparkan Publik Sepanjang Masa

3 Fakta Pilkada Pati yang Selalu Menggemparkan Publik Sepanjang Masa
Ketua Tim Pemenangan Haryanto-Saiful Arifin menyatakan dukungannya di depan Kantor KPU Pati. © direktoripati.com

Direktoripati.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Pati selalu menggemparkan publik dan menjadi sorotan di tingkat nasional dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2006, Pilkada Pati menjadi sorotan publik karena tingkat partisipasinya sangat rendah. Suara Merdeka menyebut, tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Pati tahun 2006 hanya 44,3 persen.

Sementara itu, data Litbang Kompas menyebut, tingkat partisipasi pemilih pada tahun 2006 adalah 51,8 persen. Tingkat partisipasi yang hanya berkisar di angka 44 persen tersebut menjadikan Kabupaten Pati menyandang predikat daerah dengan partisipasi politik paling rendah se-Jawa Tengah.

Saat itu, banyak yang menyebut bila warga Pati apatis terhadap politik hingga menyebabkan angka golongan putih (golput) sangat tinggi. Fenomena ini cukup menjadi catatan bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sebagai bahan pembelajaran.

Pada tahun 2011, publik digemparkan dengan fenomena Pilkada di Pati yang sangat unik dan langka. Saat itu, politisi ulung, Sunarwi dari DPC PDI Perjuangan Pati mendaftarkan diri sebagai calon Bupati, kendati surat rekomendasi dari DPP PDIP jatuh pada Imam Suroso.

Setelah digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK), Pilkada 2011 akhirnya dinyatakan tidak sah, sehingga diulang pada tahun 2012. Fenomena ini sempat menggemparkan publik dan menjadi sorotan dari Sabang hingga Merauke.

Kasus Pilkada di Pati tersebut kemudian menjadi acuan, landasan dan dasar KPU untuk membuat regulasi baru yang berlaku di seluruh Indonesia. Dari kasus Pilkada yang ada di Pati pada 2011 pula, surat rekomendasi untuk bakal calon bupati dan wakil bupati akhirnya berubah menjadi wewenang partai sepenuhnya di tingkat pusat (DPP), karena sebelumnya tidak ada regulasi yang mengatur itu.

Anggota KPU RI Ida Budhiati menyebut, Pilkada Pati tahun 2011 menjadi bahan bagi KPU RI untuk membuat regulasi yang baru. Dari Pati, Undang-undang RI yang mengatur Pilkada diubah.

Pada tahun 2017, Pilkada Pati kembali menjadi sorotan publik, karena diikuti calon tunggal untuk pertama kalinya dalam panggung demokrasi di Indonesia.

Karena itu, KPU RI pertama kalinya menggelar simulasi pemilihan calon tunggal yang diadakan di Kabupaten Pati pada Minggu, 23 Oktober 2016.

Dari tahun ke tahun, Pilkada Pati selalu menjadi rujukan pendidikan politik di Indonesia. Litbang direktoripati.com menyebutnya, Pilkada Pati selalu menjadi laboratorium politik bagi pendidikan politik di Indonesia sepanjang masa. (*)

0 Response to "3 Fakta Pilkada Pati yang Selalu Menggemparkan Publik Sepanjang Masa"

Post a Comment