10 Tragedi Paling Menggemparkan di Kabupaten Pati Sepanjang 2015

Direktoripati.com - Sepanjang tahun 2015, Kabupaten Pati mengalami berbagai insiden, peristiwa dan tragedi yang sempat menggemparkan publik. Tak ayal, Pati sempat menjadi sorotan banyak pihak.

Untuk itu, Direktoripati.com merangkum sepuluh peristiwa paling menggemparkan publik di Kabupaten Pati sepanjang tahun 2015. Catatan ini diharapkan menjadi refleksi akhir tahun sebagai inspirasi untuk perbaikan yang lebih baik pada 2016.

Lantas, apa saja 10 tragedi paling menggemparkan di Kabupaten Pati selama tahun 2015? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Pro-kontra semen: blokade pantura hampir 7 jam
Ribuan massa yang mengatasnamakan diri sebagai "ahli waris" Gunung Kendeng menduduki paksa jalur pantura Pati-Kudus Km 6, tepatnya kawasan pertigaan Desa Sukokulon, Kecamatan Margorejo, Pati, Kamis, 23 Juli 2015.

Mereka ingin bertemu dengan Bupati Pati Haryanto dan menuntut agar surat izin pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng dicabut. Ratusan pasukan keamanan dikerahkan untuk mengatasi massa, baik dari TNI maupun Polri.

Bahkan, Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho, Dandim 0718 Pati Letkol Inf Hery Setiono, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati Ali Badrudin turun langsung di lapangan.

Akses pantura diblokade selama hampir tujuh jam. Padahal, jalur tersebut merupakan jalan nasional. Dengan waktu yang cukup lama itu pula, aktivitas ekonomi sempat lumpuh.

Jalan diblokade menggunakan batu-batu yang sebelumnya akan dipakai untuk pembangunan jalan. Sejumlah kayu dan ban hasil penjarahan dibakar di sejumlah titik. Sempat terjadi aksi lempar batu. Sontak, insiden tersebut menjadi sorotan publik.

Tragedi Paling Menggemparkan di Kabupaten Pati

Polemik karaoke: ratusan PK geruduk kantor bupati
Kewibawaan pemerintahan Kabupaten Pati lenyap seketika, setelah ratusan pemandu karaoke (PK) menggeruduk Kantor Bupati Pati, Kamis, 6 Agustus 2015. Mereka menuntut agar tempat hiburan karaoke di Pati tidak ditertibkan sesuai dengan Perda.

Bahkan, pemerintah yang diwakili Kasatpol PP Suhud, Asisten I Sekda Pati Sudiyono, Kepala Bagian Hukum Setda Pati Siti Subiati, perwakilan kepolisian, serta jajaran Pemkab Pati lainnya tidak berdaya setelah didatangi puluhan pengusaha karaoke dan kuasa hukumnya, Nimerodi Gulo.

Sampai catatan ini turun, persoalan karaoke di Pati masih berpolemik. Meski Mahkamah Agung (MA) sudah menolak uji materi yang dilayangkan pengacara pengusaha karaoke, tetapi penegakan masih belum dilaksanakan.

Desakan dari berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, ormas Islam NU dan Muhammadiyah, hingga kalangan legislatif tak membuat persoalan karaoke berakhir. Bahkan, netizen dan masyarakat sempat menulis di situs jejaring sosial Facebook: "Kami siap membantu menertibkan, jika Bupati Pati meminta."

ratusan pk geruduk kantor bupati pati
Ratusan pemandu karaoke (PK) naik ke atas Kantor Bupati Pati

Kebakaran kapal di Juwana
Kebakaran 5 kapal yang terjadi di Kecamatan Juwana sempat menggemparkan publik. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 10 Juli 2015.

Api berkobar dari satu kapal ke kapal lainnya. Kepulan asap begitu pekat dan hitam.

Tragedi itu menewaskan satu orang. Satu korban lainnya saat itu mendapatkan perawatan intensif. Kerugian ditaksir mencapai Rp 8,5 miliar atas kebakaran yang melalap lima kapal sekaligus itu.

Blokade pantura tolak kebijakan menteri
Sejumlah nelayan di Juwana benar-benar geram dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait dengan larangan penggunaan kapal jenis cantrang. Kekesalan itu berbuah pada blokade jalur pantura Juwana-Pati pada Senin, 2 Maret 2015.

Mereka ingin agar Menteri mencabut Peraturan Menteri (Permen) Nomor 2 Tahun 2015 yang berisi larangan penggunaan alat tangkap ikan cantrang. Akibat dari blokade tersebut, jalan pantura sempat macet kurang lebih hingga dua jam.

Gempa/lindu di pantai utara Jawa
Gempa bumi yang terjadi di Timur Laut Kabupaten Jepara membuat warga yang tinggal di pegunungan Muria geger, baik dari Jepara, Kudus, dan Pati. Kejadian terjadi pada Jumat, 23 Oktober 2015.

Meski fenomena unik ini terjadi di Jepara, tetapi insiden tersebut menyangkut peradaban manusia yang tinggal di kawasan Muria dan sekitarnya, yakni Jepara, Kudus, Pati, serta beberapa di antaranya Rembang. Karena daerah itu berada di kawasan pantai utara Jawa.

Dari hasil diskusi Direktoripati.com dengan Balai Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Muria, fenomena gempa di laut utara Jawa benar-benar mengejutkan publik. Betapa tidak, ratusan tahun lamanya tidak pernah terjadi gempa di daerah laut utara Jawa.

Karena itu, guncangan dahsyat dari laut utara Jawa benar-benar menjadi tanda tanya. Padahal, kawasan itu dulunya akan dibangun sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Alasannya, laut utara Jawa tak pernah ada gempa. Selama ini, gempa yang sering terjadi di laut selatan. Alam seolah mengingatkan kepada manusia bahwa kemungkinan akan fenomena alam bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

Dengan gempa itu, apakah ada pesan-pesan khusus, seperti pesan spiritual akan masa depan peradaban di kawasan Muria? Hal ini masih menjadi tanda tanya.

Long march menjemput keadilan
Ratusan warga Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dari Pati, Rembang, Grobogan dan Blora menggelar aksi long march atau jalan kaki sepanjang kurang lebih 100 km dari Hutan Gadudero, Omah Sonokeling, Sukolilo menuju Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang.

"Warga yang ikut aksi jalan kaki bukan hanya JMPPK dari Pati saja, tetapi juga JMPPK dari Rembang, Blora, dan Grobogan," kata Koordinator JMPPK Gunretno saat dimintai keterangan Direktoripati.com.

Perjalanan itu dimulai pada Minggu, 15 November 2015, sampai di PTUN Semarang pada Selasa, 17 November 2015. Dalam perjalanan itu, mereka sempat singgah di makam-makam keramat waliyullah seperti Makam Syeh Abdullah atau Mbah Gareng di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus hingga Makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu, Kabupaten Demak.

Sebelumnya, ritual atau semacam doa digelar pada malam hari di Rumah Sono Keling sebelum berangkat menuju PTUN. Rangkaian aksi yang menguras tenaga dan pikiran itu akhirnya membuahkan hasil.

Majelis Hakim PTUN Semarang akhirnya mengabulkan gugatan atas izin lingkungan Nomor 660.1/4767 yang dilakukan warga JMPPK yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Hari bersejarah bagi warga kontra semen tersebut berlangsung pada Selasa, 17 November 2015, sesudah adzan Magrib dikumandangkan.

Kekeringan darurat
Musim kemarau di Kabupaten Pati dan sejumlah daerah lainnya tak seperti biasanya. Musim kemarau lebih lama, sehingga menyebabkan kekeringan hebat melanda sejumlah daerah di Kabupaten Pati, terutama wilayah selatan dan timur.

Akibatnya, warga kekurangan air bersih. Sejumlah upaya dilakukan dari Pemkab dan komunitas, seperti bantuan air bersih. Jutaan liter air bersih digelontorkan dari berbagai pihak untuk mengatasi kekurangan air bersih.

Ritual dan doa meminta hujan pun dilakukan, seperti sholat istisqa yang digelar berbagai ormas Islam, ritual minta hujan yang dilakukan warga lintas agama di Kayen, dan lain sebagainya.

Namun, hujan tak kunjung datang, bahkan hingga di penghujung November. Parahnya, kekeringan mencapai wilayah Pati Kota. Padahal, dalam perjalanan sejarahnya, baru tahun ini wilayah Kota kekurangan air bersih dan sumber mata air bersih mulai habis.

Kekeringan panjang yang melanda Kabupaten Pati sempat membuat warga panik dan khawatir. Gejala alam ini menjadi salah satu perhatian publik.

Bencana alam bertubi-tubi
Memasuki musim hujan pada kisaran awal Desember, sejumlah daerah di Pati dilanda bencana bertubi-tubi mulai dari banjir bandang, longsor, hingga angin puting beliung yang meluluhlantakkan puluhan rumah dan ribuan rumah mengalami rusak.

Dari data Litbang Direktoripati.com, sedikitnya ada lebih dari seribu rumah mengalami rusak ringan akibat bencana angin puting beliung. Sementara itu, belasan rumah mengalami rusak berat, bahkan luluh lantak rata dengan tanah.

Sejumlah kecamatan yang dihantam puting beliung, antara lain Jaken, Jakenan, Sukolilo, dan Cluwak. Sementara itu, banjir bandang hebat sempat menghantam Desa Sukolilo dan Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo hanya dalam selang waktu beberapa hari saja.

Kasus pembunuhan pasangan suami istri dan tamunya
Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus digemparkan dengan temuan mayat pasangan suami istri dan tamunya dalam satu rumah pada 6 April 2015 lalu. Banyak pihak yang bertanya-tanya: Siapa yang kejam melakukan pembunuhan tiga orang sekaligus dalam satu malam?

Kematian pasutri dan tamunya di Gabus tersebut sempat menjadi misteri dan tanda tanya. Tak butuh waktu lama, sekitar seminggu kemudian, petugas kepolisian resort (Polres) Pati menangkap tiga pelaku yang diduga membunuh pasutri dan tamunya tersebut menggunakan racun jenis sianida.

Sampai penghujung tahun 2015, hukuman untuk ketiga pelaku yang menjadi terdakwa hampir saja diputuskan Pengadilan Negeri ({PN) Pati. Namun, putusan itu ditunda untuk diputuskan pada awal-awal 2016 ini.

Kecelakaan lalu lintas 179 orang meninggal
Dari data yang dihimpun Direktoripati.com dari Satlantas Polres Pati, jumlah laka lantas sepanjang tahun 2015 ada 871 kasus. Dari ratusan kasus tersebut, 179 orang meninggal dunia selama tahun 2015. Sementara itu, 4 orang mengalami luka berat dan 1.039 pengendara di antaranya mengalami luka ringan.

Banyak informasi kecelakaan di Kabupaten Pati sepanjang 2015 memang sempat mengejutkan publik. Kasatlantas Polres Pati AKP Samsu Wirman benar-benar mengimbau kepada pengguna jalan untuk melengkapi surat-surat dan kelengkapan keselamatan berlalu lintas seperti helm dan sabuk keselamatan. Terlebih, selalu waspada dalam berkendara dan istirahat saat mata serta badan sudah capek atau lelah.

Demikian 10 tragedi di Kabupaten Pati paling menggemparkan sepanjang 2015 versi Direktoripati.com. Semoga bisa dijadikan refleksi dan inspirasi untuk perbaikan yang lebih baik pada tahun 2016, dan tahun-tahun berikutnya. Semoga bermanfaat. (*)

0 Response to "10 Tragedi Paling Menggemparkan di Kabupaten Pati Sepanjang 2015"

Post a Comment