Potret Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Pati

Direktoripati.com - Kabupaten Pati dikenal sebagai salah satu daerah yang menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. Warga lintas agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta penghayat kepercayaan berbaur dalam satu kultur "Pati" yang sama.

Potret kerukunan kehidupan beragama tersebut sempat mendapatkan pujian dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. "Pati sudah dikenal publik sebagai daerah yang toleran dan menghargai perbedaan, keberagaman. Menag sempat memberikan pujian itu," kata Gembala Jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Pati Pdt Michael Salim.

Dalam beberapa hal, kegiatan kebersamaan lintas agama acapkali dilakukan. Salah satunya, kegiatan doa bersama antartokoh agama yang dilakukan di GKMI beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatan tersebut, pemuka agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu hadir untuk berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing dalam satu bingkai, yaitu ingin Kabupaten Pati selamat dari beragam bencana yang melanda.

Potret Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Pati
Tokoh agama Hindu, Buddha, Islam, Kristen dan Katolik doa bersama di Pati

Sebelumnya, kekeringan panjang yang melanda Pati membuat masyarakat khawatir karena kesulitan mendapatkan air bersih. Usai kekeringan, bencana masih saja melanda, yaitu banjir bandang dan angin puting beliung.

Sontak, umat lintas agama bersatu untuk menyatakan satu hal, yaitu doa bersama kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar berbagai bencana bertubi-tubi yang melanda Kabupaten Pati bisa berhenti.

Itulah salah satu potret kerukunan kehidupan beragama di sebuah daerah kecil di wilayah Pantai Utara Jawa berjuluk "Bumi Mina Tani" ini.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Direktoripati.com mencatat, di luar agama formal, masih banyak penganut aliran kepercayaan atau dikenal dengan penghayat yang masih eksis menjalani ajaran leluhur mereka. Mereka terhimpun dalam satu wadah bernama Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK).

Salah satunya, penganut kepercayaan Sapto Darmo, Pambuko Jiwo, Pramono Sejati, Suci Rahayu, Budi Luhur, dan masih banyak lagi lainnya. Mereka hidup berdampingan secara rukun.

Di wilayah Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal juga terdapat miniatur keberagamaan umat beragama yang bisa hidup berdampingan secara rukun. Di satu desa tersebut, banyak penduduk yang memeluk agama Islam, Buddha dan Kristen tetapi bisa hidup secara rukun dalam satu kampung.

Litbang Direktoripati.com juga mencatat, dalam sejumlah perayaan agama seperti Imlek dimeriahkan bukan hanya umat China-Tionghoa, tetapi juga umat Islam.

Tahun 2015 lalu, salah satu rangkaian acara Imlek justru diisi dengan pengajian yang dihadiri ratusan santri dan umat Islam. Demikian sekelumit catatan-catatan dan potret kehidupan umat beragama di Pati yang bisa menjadi refleksi betapa Indonesia merupakan negeri multikultur yang mestinya bisa hidup berdampingan dengan rukun. (*)

0 Response to "Potret Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Pati"

Post a Comment