Roro Mendut, Tokoh Perempuan Legendaris dari Pati

Roro Mendut adalah tokoh perempuan legendaris dari Pati Jawa Tengah. Kenapa legendaris? Karena kisah tentang keperempuanan dari Roro Mendut menjadi tombak tajam bagi para wanita modern masa kini.

Dari informasi dari Babad Tanah Jawi dan cerita tutur masyarakat yang berkembang, kisah Roro Mendut dimulai dari peristiwa pertempuran antara Mataram dan Kadipaten Pati. Menurut sejumlah literasi, pertempuran Mataram (saat ini Yogyakarta-Surakarta) dan Pati meletus karena Kadipaten Pati dinilai membangkang atau makar terharap pemerintahan pusat.

Roro Mendut, Tokoh Perempuan Legendaris dari Pati
Ilustrasi Roro Mendut. Foto:  Bartian Rachmat
Padahal, sejarahnya tidak begitu. "Babad Tanah Jawi perlu dipertanyakan. Sebelum Mataram ada, kadipaten Pati sudah ada dan bahkan orang-orang Mataram pada waktu itu tak lain adalah cucu-cucu dari para tokoh leluhur yang memimpin Pati. Tidak ada ceritanya Pati berbuat makar atau memberontak pada Mataram, karena Pati adalah wilayah yang lebih tua dan merdeka sedari awal ketimbang Mataram," ujar Susilo Tomo, anggota tim Bedah Sejarah Pati (BSP) saat ditemui Direktoripati.com.

"Babad Tanah Jawi, bahkan Babad Pati itu dibuat pada zaman Belanda. Untuk mengaburkan sejarah dan ingatan tentang leluhur Nusantara dengan generasi selanjutnya, pembuatan babad tidak lepas dari tekanan politik Belanda. Ini yang harus kita sadari bersama dan perlu adanya penafsiran terhadap simbol-simbol yang terkandung di dalam kisah babad," imbuh Ustadz Giok, panggilan akrab anggota Bedah Sejarah Pati.

Kisah Roro Mendut
Pasca penggempuran Kabupaten Pati pada zaman Sultan Agung berjaya (Sultan Agung adalah cucu dari Panembahan Senopati dan Ratu Mas Waskita Jawi yang juga keturunan orang Pati), sejumlah perempuan keraton diboyong ke Mataram, termasuk Roro Mendut yang dikenal dengan kecantikan dan kemolekannya.

Roro Mendut menjadi salah satu representasi perempuan sempurna pada masanya. Tumenggung Wiraguna yang menjadi senopati atau panglima perang Mataram saat perang melawan Pati, tak kuasa melihat kecantikan Roro Mendut.

Saat modern ini, posisi Tumenggung Wiraguna setara dengan panglima TNI Republik Indonesia. Meski demikian, Roro Mendut menolak cinta dan pinangan dari pejabat senior di Mataram tersebut. Ia lebih memilih Pranacitra (ejaan bahasa Jawa: Pronocitro) yang notabene rakyat biasa, ketimbang Wiraguna yang merupakan pejabat senior di negeri Mataram waktu itu.

"Kisah Roro Mendut itu harus diambil hikmahnya. Betapa perempuan Nusantara yang direpresentasikan Roro Mendut dari bumi Pati sudah memiliki harga diri yang tinggi, mandiri, dan tidak dibutakan oleh harta dan kekuasaan sebagaimana perempuan modern sekarang ini," ujar Lismanto, peminat kajian Nusantara saat dihubungi via telepon, Sabtu (14/2).

Kisah selanjutnya, kisah Roro Mendut berakhir tragis dengan kematiannya bersama kekasihnya, Pronocitro di keris Tumenggung Wiraguna. Hal ini mirip dengan cerita cinta Romeo dan Juliet yang digambarkan sebagai kisah kesetiaan sepasang kekasih sehidup semati. Sebelumnya, Roro Mendut harus berjualan rokok klobot untuk membayar pajak atau menebus diri dari belenggu Tumenggung Wiraguna.

Rokok yang dijual oleh Roro Mendut unik, yaitu dihisap terlebih dahulu untuk menggaet para pembeli. Hasilnya luar biasa. Berapa pun harga yang diminta Roro Mendut pasti dibayar. Inilah yang kemudian menginspirasi pengusaha rokok di Indonesia bahkan dunia untuk membuat sales promotion girl (SPG) sebagai sarana untuk menjual produknya sebagaimana kisah Roro Mendut waktu itu.

Inilah sebabnya Roro Mendut menjadi tokoh perempuan legendaris asal Pati yang kemudian ditulis di sejumlah novel, buku, bahkan dilakonkan dalam kesenian budaya ketoprak dan film modern. Mengingat kisah, cerita, dan sejarah kehidupannya bisa menjadi pelajaran berharga bagi perempuan dari zaman ke zaman. (Penulis: Oktavia Devi Puspita Sari/Direktoripati.com).

0 Response to "Roro Mendut, Tokoh Perempuan Legendaris dari Pati"

Post a Comment