Tradisi Meron di Sukolilo Pati

Tradisi meron di kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang menjadi kirab budaya tahunan biasanya digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah maulid Nabi.

Kirab budaya ini berlangsung dengan serangkaian acara, seperti arak-arakan nasi tumpeng dalam kapasitas yang besar di mana oleh penduduk setempat dinamakan Meron. Tak hanya itu, pawai dan karnaval menjadi bagian dari tradisi perayaan Meron. Berlangsung Minggu (4/1) kemarin, kirab Meron sempat membuat jalan utama Sukolilo-Purwodadi macet total.

Tradisi Meron di Sukolilo Pati

Beberapa peserta memakai seragam khas petani yang menggunakan caping yang melambangkan simbol pertanian yang subur. Beberapa di antaranya dijumpai perempuan-perempuan memakai pakaian khas ala keraton, naga, dan drum band anak-anak serta remaja. Tampak hasil tani penduduk setempat dirangkai dalam gunungan seperti terong, petai, kacang, cabe, padi, hingga buah-buahan. Mirip seperti karnaval yang mengkolaborasikan antara seni, tradisi, dan budaya.

Ada beberapa arti dan makna dari tradisi meron di Sukolilo. Pertama, bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa yang selama ini telah melimpahkan segala rahmat dan anugerah selama setahun dengan hasil pertanian yang melimpah. Rasa syukur ini dalam bahasa Jawa dikenal "selametan".

Kedua, menyambut hari kelahiran Rasulullah Muhammad Saw. Sebagai pembawa risalah umat Islam, kelahiran Nabi selalu diperingati oleh umatnya dari berbagai penjuru dunia, termasuk warga Sukolilo yang berada di wilayah lereng pegunungan Kendeng ini.

Ketiga, melestarikan tradisi dari kisah yang pernah berlangsung saat Pati dan Mataram berseteru. Ketiga arti dan makna tradisi Meron itulah kemudian para warga Sukolilo hingga kini terus melestarikan dan mempertahankan sebagai adat istiadat dari generasi ke generasi.

Sejarah asal mula
Sejarah, legenda, dan asal mula tradisi Meron dilatari pada masa pemerintahan Sultan Agung sebagai penguasa Mataram yang saat itu menyerang Pati saat dipimpin Adipati Pragola.

Sebagai demang di Sukolilo, Ki Suta Kerta yang memiliki kakek dan leluhur di Mataram ia ditugaskan untuk mengabdi di Pati. Sementara itu, saudaranya yang bernama Sura Kadam memilih untuk mengabdi di Mataram. Saat perang pecah berlangsung dan Pati berhasil ditaklukkan Mataram, Sura Kadam menengok saudaranya di Sukolilo.

Mengetahui prajurit Mataram menuju Sukolilo, Sura Kerta ketakukan khawatir ditangkap. Seketika, saudaranya tadi menjelaskan bahwa kedatangannya hanya untuk menjenguk, silahturahmi, dan ingin beristirahat. Dari sini, Sura Kadam terlibat dalam perbincangan dan mengusulkan agar warga Sukolilo mengadakan upacara sekaten untuk memperingati dan menghormati hari lahirnya Nabi Muhammad Saw sekaligus menghibur rakyat.

Sontak, penduduk menyambutnya dengan riang dan gembira. Dari sini, tradisi sekaten yang selalu ditandai dengan adanya gunungan yang diarak disebut dengan meron yang artinya rame dan iron atau tiron. Sementara iron berarti tiruan. (Devi/Foto: Kushadi Anto)

1 Response to "Tradisi Meron di Sukolilo Pati"

  1. Mas aku aji kusumo keturunan langsung dari eyang suroyudo cerita meron itu salah dari garis pendawa udah salah apalagi soal meron. Ini menyangkut sejarah, tolong dapatkan sumber yg tepat.

    ReplyDelete