Wisata Sejarah di Makam Syeh Jangkung Saridin

Syeh Jangkung atau bernama asli Saridin adalah tokoh fenomenal yang menjadi sejarah legendaris warga Pati dari zaman ke zaman lintas generasi. Hidup pada era Walisongo sekitar abad 15, Saridin yang bergelar Syeh Jangkung mengisi kisah Nusantara yang mengajarkan generasi penerus bangsa akan sebuah kejujuran, keluguan, dan kesaktian yang semestinya digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan. Untuk itu, wisata sejarah di Makam Syeh Jangkung Pati menjadi destinasi wisata Pati yang ditunggu-tunggu.

Makam Saridin berada di bawah pengelolaan Yayasan Syeh Jangkung, tepatnya di Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Dengan akte notaris nomor 23 tahun 1995, Makam Syeh Jangkung didaulat sebagai "maqbaroh umum" umat Islam. Dengan demikian, siapa saja boleh datang berziarah dan mendoakan Syeh Jangkung.

Wisata Sejarah di Makam Syeh Jangkung Saridin

Hampir setiap hari makam Syeh Jangkung dipadati oleh pengunjung yang hendak berziarah dan mendoakan Syeh Jangkung. Bahkan, tidak jarang yang datang ke makam Mbah Saridin ini untuk "ngalap berkah" yang berarti "mengharap berkah". Ada pula yang mengunjungi ke makam Saridin sekadar sebagai wisata sejarah untuk mengingat histori tokoh Pati bernama Saridin yang kemudian dapat dijadikan teladan.Makam Syeh Jangkung sepintas terlihat berlokasi di tengah area persawahan, namun setelah kita masuk, di sana terdapat pemukiman penduduk yang sangat padat. Makam Syeh Jangkung juga terdapat pohon raksasa besar yang bisa jadi digunakan sebagai penanda bagi peziarah yang belum pernah berkunjung ke Makam Syeh Jangkung.

Tepat di pintu masuk menuju Makam Syeh Jangkung, terdapat ornamen seni dua buah kelapa hijau. Menurut penelitian dari tim wisata Direktori Pati, dua buah kelapa hijau tersebut menjadi satu cara untuk mengenang riwayat perjalanan panjang Saridin, mulai dari membuktikan kebenaran adanya ikan setiap ada air, termasuk di dalam buah kelapa saat ditanya Sunan Kudus. Buah kelapa juga mengingatkan kita bahwa Saridin pernah memanjat buah kelapa yang tinggi lalu menjatuhkan diri saat ditanya Sunan Kudus tentang arti makna syahadat.

Dari peristiwa yang dinilai Sunan Kudus sebagai tindakan pamer kesaktian ini, Saridin diusir dari tanah Kudus saat Saridin berguru dan nyantri di Pondok Pesantren asuhan Sunan Kudus. Perjalanan selanjutnya, Saridin bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, lantas didaulat sebagai murid Kanjeng Sunan Kalijaga. Waktu berjalan dan Saridin kemudian dijuluki Syeh Jangkung.

Dari ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga ini, Syeh Jangkung diminta untuk menyebarkan agama Islam di Kadipaten Pesantenan Pati (nama Kabupaten Pati dulu) waktu dipimpin oleh Adipati Kembangjoyo atau bergelar Wasis Joyokusumo. Syeh Jangkung pertama kali mencoba untuk menyebarkan ajaran Islam di Desa Miyono yang lantas membawanya kepada perjalanan panjang karena terkena tuduhan membunuh Branjung dan akhirnya dihukum mati. Lantaran Syeh Jangkung benar-benar sakti tapi lugu, Syeh Jangkung tidak mati dalam sebuah hukuman. Dari sini lah Syeh Jangkung kemudian melarikan diri ke Kudus dan hendak berguru ke Sunan Kudus. Lagi-lagi, Syeh Jangkung membuat ulah dengan keluguannya yang pada akhirnya Sunan Kudus tidak berkenan dengan Syeh Jangkung.

Saat ini, Makam Syeh Jangkung dibanjiri banyak peziarah. Salah satu yang terlihat adalah seorang tentara TNI dengan pakaian lengkap loreng nampak tidur di pendopo yang disediakan peziarah di sekitar kompleks pemakaman Syeh Jangkung. Di kompleks Makam Syeh Jangkung memiliki fasilitas yang sangat lengkap, mulai dari pertokoan atau mini market, penjual bunga untuk nyekar, mushola, kamar mandi, WC atau toilet, dan tepat di depan Makam Syeh Jangkung terdapat puluhan kendi (tempat minum yang terbuat dari tanah liat) yang disediakan bagi peziarah yang hendak minum.

Terkait dengan parkir, Makam Syeh Jangkung dilengkapi dengan fasilitas parkir yang luas, dan beberapa di antaranya terlihat mobil, sepeda motor, hingga mobil bak terbuka untuk rombongan peziarah. Warung makan dan minum serta pusat oleh-oleh juga nampak berjajaran di kawasan pemakaman Syeh Jangkung. Di sekitar makam juga terdapat Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Di kompleks Makam Syeh Jangkung pula terdapat makam istrinya bernama Retno Jinoli dan Pandan Arum. Retno Jinoli sendiri istri adalah kakak dari Raja Mataram ketiga bernama Sultan Agung (cucu panembahan Senopati dan anak dari Mas Jolang) atas jasanya mengalahkan raja jin atau penguasa Alas Roban yang terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sementara itu, Pandam Arum adalah istri Saridin yang merupakan putri dari Kerajaan Cirebon.

Makam Syeh Jangkung termasuk dalam Wilayah Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat (BKPM) Kawasan Makam Syekh Djangkung Landoh, Kayen, Pati dengan SK Camat Pati nomor 300/26/2007. 

Haul Syeh Jangkung
Haul Syeh Jangkung diperingati pada 15-16 Rajab di mana pada malam-malam peringatan ini banyak peziarah berdatangan untuk berziarah maupun ngalap berkah.

Haul Syeh Jangkung juga diperingati pengelola dengan menyelenggarakan pengajian. Biasanya haul Syeh Jangkung dimulai dengan acara ganti kelambu kemudian disusul dengan acara pengajian dan pasar malam.

Pada saat haul Syeh Jangkung inilah banyak pengunjung bukan hanya datang dari warga Pati, tetapi juga dari berbagai provinsi hingga mancanegara, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Malaysia hingga Singapura. Selain hari haul, makam Syeh Jangkung dipadati pengunjung pada malam Jumat atau kamis malam.

Saat ini, Makam Syeh Jangkung memiliki juru kunci yang dipercaya sebagai keturunan Syeh Jangkung sendiri, yaitu RH Damhari Panoto Jiwo yang merupakan keturunan Syeh Jangkung ke-11.

Salah satu petilasan yang ditinggalkan Syeh Jangkung adalah sumur kampung ndonga di mana dulu sumur ini digunakan Saridin (Syeh Jangkung) untuk minum saat Saridin tidak diberi minum oleh orang kampung mengingat waktu itu benar-benar kemarau dan musim kekeringan. Dari peristiwa itu, Saridin menancapkan pusaka ke tanah lalu muncul air. 

Ajaran-ajaran Syeh Jangkung Saridin
Ajaran-ajaran syeh Jangkung Saridin adalah sebagai berikut. Ajaran-ajaran Syeh Jangkung ini sudah dialihbahasakan dengan Bahasa Jawa logat khas Pati. "Ojo njikuk nek gak dikongkon, ojo njaluk nek gak nggone." Arti dari ajaran Syeh Jangkung Saridin ini adalah jangan mengambil kalau tidak diperintah atau tidak mendapatkan izin dari yang punya, jangan meminta kalau bukan miliknya.

Dengan ajaran tersebut, Saridin mengajarkan kita untuk mengedapankan kejujuran, keikhlasan dan kemandirian dalam menjalankan sebuah kehidupan. Tak hanya itu, Syeh Jangkung juga mengajarkan kita untuk tidak saling membenci, jangan suka iri dan jangan suka bertengkar. Jangan suka mengambil barang yang bukan miliknya juga menjadi ajaran Syeh Jangkung Saridin yang sangat populer di kalangan masyarakat yang disarikan dalam sebuah pementasan wayang ketoprak.

Ajaran tersebut dinasehatkan dalam kata: ojo jrengki, ojo srei, ojo tukar padu, ojo dahpen kemeren, ojo kutil jumput, ojo beghog colong. Demikian ajaran-ajaran Syeh Jangkung Saridin yang bisa menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, wisata sejarah di Makam Syeh Jangkung Saridin tidak ada salahnya, bahkan menjadi satu refleksi untuk mengisi kemerdekaan dengan ajaran-ajaran yang dipesankan oleh Syeh Jangkung Saridin. Napak tilas sejarah di Makam Syeh Jangkung menjadi menyenangkan apabila disertai niat untuk mencontoh kisah teladan dari perjalanan panjang Syeh Jangkung Saridin. (Ditulis secara eksklusif oleh tim Wisata Sejarah Direktori Pati).

Untuk mengetahui suasana makam Syeh Jangkung sekarang ini, silakan lihat video di bawah ini:


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-BesqaLAMp0

0 Response to "Wisata Sejarah di Makam Syeh Jangkung Saridin"

Post a Comment