Wisata Sejarah di Makam Nyai Ageng Ngerang Pati

Pegunungan Kendeng bukan hanya terkenal dengan sumber daya buminya yang kemudian perusahaan swasta berupaya keras akan mendirikan pabrik semen di sana, wilayah pegunungan Kendeng yang terletak di Kabupaten Pati juga terdapat salah satu makam tokoh penyebar agama Islam, yaitu Nyai Ageng Ngerang yang bernama asli Siti Rohmah Roro Kasian. Oleh karena itu, wisata sejarah di makam Nyai Ageng Ngerang Pati menjadi satu destinasi wisata Pati yang mengesankan.

Dikatakan mengesankan karena Nyai Ageng Ngerang adalah tokoh penyebar agama Islam di tanah Pati yang memiliki perjuangan dan kegigihan yang besar dalam menyerukan syiar agama Islam di wilayah pesisir utara Laut Jawa, tepatnya di Pati, Jawa Tengah. Makam Nyai Ageng Ngerang sendiri tidak terletak persis di pegunungan Kendeng, tetapi berada di lereng pegunungan Kendeng atau kaki gunung Kendeng, tepatnya di Dukuh Ngerang, Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia.

Wisata Sejarah di Makam Nyai Ageng Ngerang Pati

Makam Nyai Ageng Ngerang oleh pemerintah diresmikan pada 21 Mei 1998 dan acara haul diperingati pada 1 Suro atau tanggal tahun baru kalender Islam. Makam Nyai Ageng Ngerang terletak di sebelah selatan Kabupaten Pati, sekitar 17 km dari jantung kota Pati (alun-alun Pati).

Tepat di depan pintu masuk makam Nyai Ageng Ngerang terdapat pos pendaftaran di mana pengunjung akan diminta data oleh petugas. Data tersebut biasanya hanya nama dan desa asal pengunjung. Kadang, penjaga pos pendaftaran makam Nyai Ageng Ngerang tidak meminta data. Di awal pintu masuk, pengunjung disambut dengan tulisan "Makam Waliyyulloh Nyai Ageng Ngerang Dukuh Ngerang, Tambakromo, Pati". Waliyyulloh berarti wali Allah yang menjadi sebutan populer bagi tokoh penting penyebar agama Islam pada zaman Walisongo.

Saat ini, makam Nyai Ageng Ngerang dijaga oleh juru kunci yang diambil dari Keraton Surakarta. "Makam Nyai Ageng Ngerang bukan saja menjadi bagian dari pengelolaan pemerintah Kabupaten Pati, tetapi juga langsung berada di bawah naungan Keraton Kasultanan Surakarta," ujar juru kunci Nyai Ageng Ngerang kepada reporter wisata sejarah Direktori Pati.

Juru kunci makam Nyai Ageng Ngerang juga mengatakan bahwa menjadi juru kunci di makam Nyai Ageng Ngerang tidak sembarangan, tetapi melalui proses seleksi yang berada di bawah pengawasan Kasultanan Surakarta. "Setiap juru kunci yang akan mengabdi di makam Nyai Ageng Ngerang melalui proses seleksi dari Keraton Kasultanan Solo atau Surakarta," tutur Sang Juru Kunci makam Nyai Ageng Ngerang.

Lebih lanjut, juru kunci mengatakan bahwa menjadi juru kunci harus siap tidak melakukan hubungan intim dengan istri. Sebab, katanya, menjadi juru kunci harus benar-benar suci dan menjadi juru kunci adalah pilihan hidup yang ia jalani. Menurutnya, dia juga jarang pulang ke Surakarta karena setiap hari melayani setiap peziarah atau wisatawan yang mengunjungi makam Nyai Ageng Ngerang.

Di kompleks pemakaman Nyai Ageng Ngerang terdapat sejumlah bangunan yang digunakan untuk fasilitas parkir, baik parkir sepeda motor maupun mobil, pusat oleh-oleh, warung atau pedagang yang menjajakan makanan dan minuman, serta penjual bunga yang menyediakan pengunjung kalau ingin nyekar atau tabur bunga. Di kompleks pemakaman Nyai Ageng Ngerang juga terdapat fasilitas lengkap, seperti mushola, tempat wudhu, kamar mandi, dan toilet (WC).

Sebagaimana makam-makam tokoh Islam lainnya, makam Nyai Ageng Ngerang banyak didatangi dari berbagai kalangan, mulai dari yang ingin mendoakan, napak tilas kesejarahan Nyai Ageng Ngerang, wisata sejarah di makam Nyai Ageng Ngerang, hingga dari orang-orang yang mengharap berkah. Untuk mengantisipasi agar orang tidak terjerumus dalam perilaku musyrik, pihak pengelola makam Nyai Ageng Ngerang sudah mewanti-wanti dengan tulisan yang berada di sekitar makam Nyai Ageng Ngerang bertuliskan, "Berdoa dan memintalah kepada Allah Swt."

Kompleks pemakaman Nyai Ageng Ngerang berada di tengah-tengah sawah di mana jalan menuju makam sudah diaspal halus dan kanan-kirinya ada tanaman palem yang berjajar sepanjang jalan menuju makam. Beberapa tanaman yang ditanam petani di sekitar kompleks pemakaman, di antaranya tebu dan tanaman sawah.

Di wilayah ini pula, pengelola makam melarang orang untuk berburu hewan di sekitar kompleks pemakaman Nyai Ageng Ngerang. Tidak tahu alasannya apa, tetapi yang jelas tulisan berisi larangan berburu hewan di sekitar kompleks pemakaman terpampang jelas di areal bangunan di luar kompleks pemakaman. 

Silsilah Nyai Ageng Ngerang
Silsilah Nyai Ageng Ngerang berasal dari dua keturunan orang besar. Di satu silsilah, Nyai Ageng Ngerang merupakan keturunan dari Nabi Muhammad Saw. Di arah kedua, silsilah Nyai Ageng Ngerang berasal dari keturunan raja-raja Majapahit, yakni Prabu Brawijaya 5.

Dengan silsilah ini, Nyai Ageng Ngerang menjadi satu orang istimewa di mana merupakan persilangan antara Nabi Muhammad dan raja Majapahit. Keistimewaan silsilah Nyai Ageng Ngerang juga berasal dari Dewi Nawangwulan, yaitu bidadari yang dinikahi oleh Joko Tarub. Kalau boleh dibilang, Nyai Ageng Ngerang merupakan keturunan manusia dan bidadari.

Nyai Ageng Ngerang adalah putri dari Nawangsih  di mana Dewi Nawangsih sendiri adalah putri dari pasangan Joko Tarub dan Dewi Nawangwulan. Jadi, Joko Tarub dan Dewi Nawangwulan adalah kakek neneknya Nyai Ageng Ngerang. Ayah dari Nyai Ageng Ngerang adalah Raden Bondan Kejawan atau nama lainnya adalah Aryo Lembu Peteng atau dijuluki Ki Ageng Tarub 2 yang melanjutkan kepemimpinan Joko Tarub.

Raden Bondan Kejawan sendiri adalah putra dari Prabu Brawijaya V yang diutus untuk menemui Joko Tarub. Lantas, Raden Bondan Kejawan alias Aryo Lembu Peteng dijadikan anak angkat Joko Tarub dan akhirnya dijodohkan dengan putri Joko Tarub yang bernama Dewi Nawangsih. Nah, hasil perkawinan dari Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih inilah melahirkan Nyai Ageng Ngerang dengan nama asli Nyai Siti Rohmah Roro Kasihan atau Dewi Roro Kasihan.

Nyai Ageng Ngerang juga memiliki nama lain bernama Nyai Juminah dan ketika menikah dengan Sunan Ngerang atau Ki Ageng Ngerang, Nyai Juminah kemudian dipanggil dengan nama Nyai Ageng Ngerang. Sunan Ngerang sendiri adalah guru dari Sunan Muria yang mendirikan padepokan atau pondok pesantren di wilayah Ngerang, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati wilayah timur.

Silsilah Nyai Ageng Ngerang ke bawah kemudian menurunkan raja-raja Mataram Islam (Panembahan Senopati, Raden Mas Jolang, Sultan Agung) yang sampai saat ini sampai ke Keraton Kasultanan Surakarta Hadiningrat. Setelah melihat silsilah Nyai Ageng Ngerang tersebut, berkunjung ke makam Nyai Ageng Ngerang menjadi satu wisata sejarah di Pati yang perlu diteladani.

Ditulis oleh tim wisata sejarah Direktori Pati

3 Responses to "Wisata Sejarah di Makam Nyai Ageng Ngerang Pati"

  1. saya bangga menjadi orang Pati khususnya sebagai warga Dukuh Ngerang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa menjadi teladan bagi generasi muda dan yang paling penting adalah kita harus bisa melawan lupa. Karena lupa terhadap sejarah bisa menyebabkan tercerabutnya akar budaya. Semoga artikel wisata sejarah di makam nyai ageng ngerang pati lengkap beserta silsilahnya bisa memberikan manfaat dan teladan yang nyata

      Delete
  2. Monggo ziarah jg ke makam Raden Haryo suwongso/ki ageng wot sinom( putra raja Brawijaya V yg k 30 ) desa sinomwidodo rt 04 rw 04 kec Tambakromo Pati

    ReplyDelete